Angin bertiup, tak dapat dikendalikan
Gelombang ombak, tak dapat diselami
Menghisap derita, menelan luka
Berjalan tanpa alas, menapaki duka lara
Dalam stiap nafasku, tiada dusta
Tiap rajutan luka tertanam kuat dalam benakku
Tak
seorangpun mengerti hingga jauh ke dalam lubuk hatiku
Setiap manis
yang menyimpan pahit
Langkah
kaki, gerakan tangan, perasan pikiran dan hati, tak kau hargai
Yang kau kau
lihat hanyalah bayangmu
Yang kau
rasa adalah nafasmu
Yang kau
dengar hanya suaramu
Waktu terus
melaju, hari cepat berlalu
Kini yang
tertinggal adalah usang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar